Sabtu, 10 Oktober 2020

Kisah Ratu Saba dan Nabi Sulaiman dalam Al Qur'an.

KISAH DAN KOMUNIKASI RATU SABA’ DENGAN NABI SULAIMAN DALAM AL-QUR’AN


A. *Kisah Ratu Saba’ dalam Al Quran*```


Perbincangan wacana gender, feminisme, dan kesetaraan laki-laki dan perempuan merupakan bagian dari emansipasi, demokratisasi, dan humanisasi kebudayaan. Struktur ketidakadilan, diskriminasi, penindasan dan kekerasan terhadap perempuan, menjadi pembahasan pembicaraan yang lebih spesifik.


Dalam hal kepemimpinan, Islam memberikan batasan terhadap perempuan disebabkan karena beberapa kendala kodrati yang dimilikinya seperti menstruasi, mengandung, melahirkan dan menyusui, dimana hal itu menyebabkan kondisi perempuan saat itu lemah. 


Pertentangan terjadi di antara ulama ushulu fiqih (hukum Islam) mengenai kompetensi perempuan dalam aktivitas politik, dan sebagian besar pembahasan berputar pada persoalan potensi yang dimiliki perempuan bagi kepemimpinan politik, begitu pula kebijakan-kebijakan dan hukum untuk perempuan, tidak terlepas dari berbagai kepentingan politik dan ekonomi pemerintahan.


Para ulama berbeda pendapat tentang posisi atau kedudukan perempuan sebagai pemimpin, ayat-ayat atau hadits yang mereka gunakan sebagai hujjah bahkan sama. Ada ulama yang melihat bahwa kepemimpinan suatu negara hanya terbatas untuk kaum lelaki tanpa perempuan, karena lelaki dianggap mempunyai kelebihan dalam mengatur, berpendapat, kekuatan jiwa, dan tabiatnya, adapun perempuan kebanyakan lemah lembut. 


Pemimpin dan kepemimpinan dalam islam punya rujukan naqliyah, artinya ada isyarat-isyarat Alquran yang memperkuat perlu dan pentingnya kepemimpinan dalam sistem sosial, sedangkan berbicara mengenai perempuan dalam Alquran mengharuskan kita untuk memulai dari awal tentang bagaimana al-Qur’an memposisikan perempuan.


Kepemimpinan perempuan dalam Al Quran, sebagaimana surah al-Naml, dalam surah ini diceritakan sebuah kerajaan yaitu kerajaan Saba’ yang dipimpinoleh seorang perempuan yang bernama ratu Balqis, dan diceritakannya bagaimana kepemimpinannya sebagai seorang perempuan.


Kisah Ratu Balqis dalam al-Qur’an tidak dapat dipisahkan dari penuturan tentang nabi Sulaiman. 


Penokohannya begitu kuat, dan Ia sangat piawai dalam berkomunikasi dengan pengikutnya dan Nabi Sulaiman, Ia juga sebagai seorang penguasa Negeri Saba’ yang aman sentosa. Ia begitu pintar dan tajam dalam pemikiran, serta ahli dalam berkomunikasi dan  ahli strategi yang ulung dalam mengambil keputusan yang terbaik bagi rakyatnya, hal ini terbukti ketika diminta untuk tunduk pada Nabi Sulaiman. 


Karena kerajaan yang besar tidak mungkin bisa dikendalikan kecuali oleh orang yang ahli dalam ilmu pemerintahan. 


Ratu Balqis adalah seorang pemimpin yang ideal, namun itu dari sisi duniawi, kepemimpinan Ratu Balqis hampir tidak memiliki cacat cela dan kelemahan sama sekali walaupun ia adalah seorang wanita. Hal itu dapat dilihat dari kepemimpinanya yaitu : Bijaksana, demokratis, mengutamakan kesejahteraan dan ketentraman rakyat, menyukai perdamaian, cerdas, teliti dan memiliki kekuatan mental.


Kisah Ratu Saba’ diceritakan dalam al-Qur’an surah al-Naml, kisah mengenai ratu Balqis bermula dari berita yang dibawa oleh burung Hud-hud kepada nabi Sulaiman mengenai sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang wanita. Al-Qur’an memang tidak menyebutkan nama pemimpin negeri tersebut, namun buku-buku tafsir telah menjelaskan bahwa nama dari pemimpin negeri itu adalah Balqis.


Pemaknaan tentang Saba’ menurut Muhammad bin Ishak, sebagai seorang ulama dibidang ilmu nasab dan sejarah sebagaimana dikutif M Quraish Shihab dalam Ensiklopedia al-Qur’an, bahwa nama Saba’ sebenarnya, adalah Abdusy Syams bin Yasyjab bin Ya’rub bin Qahtan.


 Menurut Ibnu Ishak, dia hartawan dan suka berderma, karena itu dinamai dengan ar-Raisy orang yang menghimpun harta dan dengan hartanya dialah yang pertama kali menyembelih kambing di dalam peperangan lalu membagi-bagikannya kepada serdadunya.

Adapun penamaannya dengan Saba’ sebagaimana arti harfiyahnya yaitu pergi (terpisah),


 karena dialah orang Arab yang pertama kali pergi mengasingkan diri sehingga daerah yang disinggahi untuk hidup di situ dinisbahkan kepada namanya, Negeri Saba’. 


Al-Hasan Al-Bashri berkata, 


Dia adalah Ratu Balqis binti Syarahil, seorang raja wanita negeri Saba’ Firman Allah Swt “Dan dia dianugerahi segala sesuatu, yaitu dari nikmat dunia, 


berupa kebutuhan-kebutahan raja yang kokoh serta memiliki singgasana yang besar” maksudnya singgasana tempat ia duduk besar sekali, mewah terhiasi dengan emas dan berbagai macam intan permata. 


Pakar sejarah berkata “Singgasana ini berada pada istana yang megah, kokoh, tinggi bagunannya dan kuat” konstruksi bagunannya dibuat agar sinar matahari masuk setiap hari dari arah depannya dan tenggelam dari belakangnya lalu mereka sujud padanya setiap pagi dan sore. 


Bukan suatu hal yang luar biasa jika kita melihat wanita memiliki kemampuan multitasking, baik dalam dunia politik maupun bisnis seperti saat ini. Karena wanita yang tampil sebagai sosok pemimpin sudah ada  sejak zaman para nabi, termasuk saat Islam datang. Sosok wanita yang memiliki pengaruh besar dalam dunia politik pada zaman kenabiaan adalah Ratu Balqis. Wanita ini tercatat dalam sejarah Islam sebagai wanita pertama yang memimpin sebuah kerajaan. Wilayahnya terbentang dari Yaman hingga Ethiopia saat ini. 


Ratu Balqis merupakan sosok ratu yang cerdik, cantik, dan memiliki jiwa kepemimpinan dan pola komunikasi yang bagus. Ada riwayat yang mengatakan, setelah kematian ayahnya, rakyat Saba dipimpin oleh seorang lelaki. Namun, kepemimpinannya mendatangkan kerusakan. Balqis pun turun tangan dan mengambil alih kepemimpinan.  


Ratu Balqis merupakan seorang pemimpin yang bijkasana dan tidak otoriter dan mempunyai pola komunkasi yang baik terhadap para pengikutnya serta kedisiplinan dalam memimpin suatu negeri. Dalam memutuskan satu perkara saja ratu melakukan musyawarah untuk menyelesaikann masalah yang dialami negerinya, meski berjenis kelamin prempuan namun Ratu Balqis mampu menjalankan roda pemerintahan dengan adil dan bijaksana. Jauh dari sikap otoriter dan zalim layaknya para pemimpin berjenis kelamin lelaki dari sebagian besar pemerintahan dunia baik yang demokratis maupun non demokratis. bisa dilihat  suatu ketika Ratu Balqis mendapat surat berupa teguran dari Nabi Sulaiman seperti yang ada pada Qs. al-Naml ayat 29-31. 


قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ * إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ * أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ.


Ketika Ratu Saba‟ menerima surat itu berkatalah dia : Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dipatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. (30) Sesungguhnya suratitu dari Sulaiman dan sesungguhnya isi nya, „Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. (31) Bahwa jangan kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.‟  


Dari ayat ini bahwa Ratu Balqis adalah pemimpin yang sangat dihormati dan ditaati oleh para pengikutnya, kerajaan Saba’ yang makmur menggambarkan pemimpin yang memiliki wilayah besar dalam mengatur rakyatnya.


 Setiap keputusan yang diberikan oleh ratu sangat ditaati oleh rakyatnya. 


Dikisahkan dalam al-Qur’an ketika para pembesar kerajaan bermusyawarah bersama Ratu dan mengungkapkan pendapatnya, mereka tetap menyerahkan keputusan akhir pada sang Ratu.  Keputusan-keputusan yang diberikan Ratu Balqis adalah keputusan yang cerdas dan penuh pertimbangan, seperti 


saat memilih untuk mengirimkan hadiah untuk membalas Surat Sulaiman sebagai permohonan damai agar tidak terjadi peperangan, karena hadiah itu dapat melembutkan hati, menawarkan persahabatan dan cinta kasih. 


Ratu Balqis selalu mementingkan keselamatan rakyat dan tidak ingin rakyatnya menjadi korban peperangan jika mereka melawan Nabi Sulaiman, sosok pemimpin wanita yang cinta damai dan tidak menyukai kekerasan.


 Meski di bawah kepimpinan seorang ratu, tetapi strukturalisasi kepemimpinan sangat efektif dan efesien, sehingga rakyat sangat patuh kepada ratu. 


Ketika Ratu memerintahkan mereka untuk menyembah matahari,mereka juga tunduk dan patuh kepada sang ratu dan setelah sangratu menerima dakwah Nabi Sulaiman rakyatnya pun mengikuti keputusan Ratu untuk menyembah Allah swt.


Kecerdasan Ratu Balqis tergambar tatkala ia memberikan pertimbangan kepada para pembesarnya saat menanggapi surat dari nabi Suliman. Para pembesar kerajaan cenderung ingin melakukan perang dan perlawanan terhadap nabi Sulaiman, namun ratu lebih mengetahui akibat yang akan terjadi apabila mereka melawan dengan peperangan. 


Ratu Balqis mengatakan bahwa “Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.” ucapan tentang raja-raja adalah berdasarkan pengalaman sejarah masa lampau. Biasanya mereka membunuh atau menawan dan mengusir para pembesar kerajaan atau pemerintahan yang mereka kalahkan, dengan demikian mereka menghina dan mempermalukannya. 


Artinya para pembesar Ratu Balqis tidak berhak untuk durhaka dan tidak masalah terhadap kami, jika engkau menghendaki untuk pergi kepadanya dan memeranginya maka kami tidak akan durhaka. Dan setalah ini maka perkaranya kepada engkau, perintakanlah kami sesuai dengan pendapat engkau. Kami akan melaksanakan dan menantinya.

 

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau mendengarkan suara rakyatnya, mungkin itu yang tercermin dari kepemimpinan ratu Balqis.


 Dikisahkan ketika Ratu Balqis menerima surat dari nabi Sulaiman, lantas ia kumpulkan para pembesarnya untuk meminta pendapat dalam musyawarah. “Balqis berkata: Hai para pembesar, berilah aku pertimbangan dalam urusanku ini, aku tidak pernah memutuskan suatu persoalan sebelum kalian berada dimajelisku.


Ratu Balqis tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum mendengar terlebih dahulu pendapat dari para pembesar kerajaannya, terlepas dari baik atau tidaknya pendapat yang akan dikemukakan oleh pembesar kerajaan Saba’, Ratu Saba’ tetap akan mendengarnya. Ini adalah  salah satu merupakan pola komunikasi Ratu Saba’ dengan pengikutnya yaitu dengan meminta pendapat- pendapat dari pembesarnya ketika ada masalah. Jika Musyawarah dilakukan dengan benar maka saat itulah umat akan berada dalam kesejahteraan, Esensi musyawarah menunjukkan realitas persamaan kedudukan dan derajat manusia, kebebasan berpendapat dan hak kritik serta pengakuan terhadap kemanusiaan itu sendiri. 


Dengan musyawarah ditemukan cara untuk mempersatukan manusia, mempersatukan golongan-golongan dengan berbagai atribut di tengahtengah bergejolaknya problema-problema umum, dan dengan musyawarah puladikembangkan tukar pikiran dan pendapat. Pelaksanaan musyawarah bagi kehidupan manusia lebih dari sekedar kepentingan politik suatu kelompok maupunnegara, karena ia merupakan karakter mendasar bagi kelompok masyarakat secara keseluruhan.


Di ayat yang lain juga Ratu Saba’ melakukan perkumpulan atau bermusyawarah ketika hadiah yang diberikannya kepada Nabi Sulaiman melalui perantara dua pengikutnya dengan menggunakan komunikasi yang baik seperti yang di Qs. al-Naml ayat 32-35.


قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنْتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّى تَشْهَدُونِ * قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ * قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً وَكَذَلِكَ يَفْعَلُونَ * وَإِنِّي مُرْسِلَةٌ إِلَيْهِمْ بِهَدِيَّةٍ فَنَاظِرَةٌ بِمَ يَرْجِعُ الْمُرْسَلُونَ.


Dia ( balqis ) berkata, „wahai para pembesar ! berilah aku pertimbangan dan perkaraku ini. Aku tidak pernah memutuskan suatu perkara sebelum kamu hadir dalam majelisku. (33) Mereka menjawa, “Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.”(34) Dia (balqis) berkata “sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat. (35) Dan sungguh, aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) hadiah, dan (aku) akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh para utusan itu.” 


Setelah sang Ratu menyampaikan isi surat, sumber dan cara penerimaannya, kemudia dia berkata kepada pengikutnya : Hai pembesarku ! berilah aku pertimbangan dalam urusanku  yang amat penting ini aku tidak pernah memumutuskan suatu perkara negara sekecil apapun sebelum kamu menyaksikan, yakni berada dalam perkumpulan sang Ratu,


 apalagi menyangkut persoalan besar yang dialamai Negerinya, Ratu Saba’ menjelaskan kepada pengikutnya bahwasanya Nabi Sulaiman meminta seluruh masyarakat Negeri Saba’ patu kepada Nabi Sulaiman. Pada saat itu para pembesar Ratu Saba’ sangat marah besar tehadap sikap dari Nabi Sulaiman mereka meminta kepada sang Ratu segera untuk memeranginya pada saat itu terjadi diskusi yang alot terhadap surat Nabi Sulaiman yang diberikan melalui burung Hud-Hud. Namun demikian soal ini diserahkan oleh pembesarnya seutuhnya kepada Ratu Saba’, maka Ratu Saba’ mempertimbangkan apa yang diperintahkannya dan pembesarnya pun siap melaksanakan keputusan oleh sang Ratu.


Sesudah mempertimbangkan segala segi, dan memperhatikan pula isi surat dan dan cara penyampaiannya, sang Ratu tidak cendrung berperang sebagaimana terkesan dari jawaban pembesarnya yaitu untuk berperang tapi sang Ratu mempertimbangkan lagi atas jawaban pembesarnya sehingga sang Ratu mempunyai strategi dengan cara tidak melakukan peperangan, yaitu dengan mengirim suatu hadiah, guna menunjukkan keinginan Ratu Saba’ berhubungan baik dengan Nabi Sulaiman dengan demikian Ratu Saba’ mengulur waktu melihat tanggapan Nabi Sulaiman dan berpikir  lebih jauh  tentang langkah yang akan diambil oleh Ratu Saba’, yaitu dengan dua pilihan beerperang atau berdamai.


 Dan strategi ini pun sangat diterima oleh pembesarnya, karena setalah mengingat tentang bahaya perang dan akibat-akibatnya, sang Ratu juga  melihat jumlah pasukannya jauh lebih sedikit dibanding dengan pasukan Nabi Sulaiman.


Ucapan Ratu Saba’ tentang raja-raja adalah berdasar pengalaman  sejarah masa lampau. Biasanya mereka membunuh, atau paling tidak menawan dan mengusir para pembesar kerajaan atau pemerinytah yang mereka kalahkan, dengan demikian mereka menghina dan mempermalukannya,. Sesudah itu merka mengubah peraturan perundung-undangan atau kebijakan yang dapat menjamin kelangsunan kekuasaan meraka.


 Disamping itu peperangan pasti mengakibatkan kehancuran bangunan, pengungsian penduduk atau pembunuhan dan sebagainya. Nah, ini akan terjadi secara umum jika yang menyerang itu adalah raja  yang biasanya bersifat diktator dan sewenang-wenang 


Apa yang diketahui oleh sang Ratu mengenai pengalaman masa lalu itu, dianalogikannya jika Nabi Sulaiman menyerang mereka karena itu dia menyatakan bahwa demikian pulalah yang akan mereka perbuat.


Thabathaba’i menilai ucapan Ratu Saba’  Saya akan mengirim kepada mereka hadiah, tanpa menyebut nama Nabi Sulaiman, merupakan salah satu sebagai cara yang bisa ditempuh para raja untuk menampakkan wibawa dan keangkuhannya.


 Mereka enggan menyebut nama karena merasa bahwa lidahnya tidak menyebut nama itu, dan cukup mengisyaratkan atau menunjuknya. Disini sang Ratu meneyebut nama Nabi Sulaiman dan bahwa sang Ratu akan melakukan apa yng dilakukan dihadapan semua pembesarnya dan seluruh pengikutnya.


Melalui musyawarah setiap masalah yang menyangkut kepentingan umum dapat ditemukan dengan satu jalan keluar yang sebaik-baiknya setelah semua pihak mengungkapkan pendapatnya kemudian pemimpin berkuasa memutuskan melalui pertimbangan-pertimbangan bijaksana untuk kepentingan bersama. 


Seperti itulah cara yang dilakukan Ratu Balqis dalam memimpin kerajaan Saba’.Sikap musyawarah ini sesuai dengan sejumlah study yang memperlihatkan bahwa perempuan dalam kepemimpinan cenderung lebih demokratik dan mempunyai komunkasi yang baik, mereka mendorong partisipasi, berbagi kekuasaan dan informasi, mencoba untuk meningkatkan kemanfaatan bagi pengikutnya, cenderung memimpin melalui pelibatan atau pemberdayaan bawahannya. Apa yang dikemukakan diatas dapat dilanjutkan dengan berkata bahwa ayat-ayat yang berbicara tentang Ratu Saba’ yang bijaksana ini, tidak juga dapat dijadikan dasar untuk menyatakan atas nama al-Qur’an tentang boleh atau tidaknya seorang perempuan menjadi pemimpin atau kepala negara dalam pemerintahan. Karena ayat ini, tidak dikemukakan dalam konteks itu.



B. *Komunikasi Ratu Saba’ dengan Nabi Sulaiman*


Ketika Ratu Balqis  melakukan kunjungan di kerajaan Nabi Sulaiman, terjadi  dialog yang cuku panjang sehingga sang Ratu beserta pengikutnya tunduk kepada Allah Swt melalui Nabi Sulaiman seperti yang ada pada Qs. al-Naml ayat 42-44.


قَالَ نَكِّرُوا لَهَا عَرْشَهَا نَنْظُرْ أَتَهْتَدِي أَمْ تَكُونُ مِنَ الَّذِينَ لَا يَهْتَدُونَ * فَلَمَّا جَاءَتْ قِيلَ أَهَكَذَا عَرْشُكِ قَالَتْ كَأَنَّهُ هُوَ وَأُوتِينَا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِينَ * وَصَدَّهَا مَا كَانَتْ تَعْبُدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنَّهَا كَانَتْ مِنْ قَوْمٍ كَافِرِينَ * قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَنْ سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُمَرَّدٌ مِنْ قَوَارِيرَ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.


“Dan ketika Ratu Saba‟ datang, ditanyakanlah kepadanya, “serupa inikah singgasanamu ? dia menjawab, “seakan-akan singgasana ini singgasanaku. Dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (42). Dan dia Sulaiman menghalanginya dari menyembah selain Allah, sesungguhnya dia dahulu termasuk orang – orang yang kafir.”(43).

  

Ketika Ratu Balqis sampai dikerajaan Nabi Sulaiman, Nabi Sulaiman pun  bertanya kepada ratu


 *serupa inikah singgasanamu...?* 


sesungguhnya singgasana yang berada di kerajaan Sulaiman itu benar singgasana Ratu Balqis, 


namun bagaimana mungkin singgasana yang dijaga dengan pintu tertutup dan dijaga dengan ketat oleh pengawal-pengawalnya dapat berada di kerajaan Sulaiman. Menjawab pertanyaan nabi Sulaiman, Ratu Balqis sangat berhati-hati, karena pertanyaan nabi Sulaiman mengundang jawaban “ya” atau “tidak”. 


Dan jawaban yang diberikan sang ratu sangatlah tepat, “Ratu Balqis menjawab, Seakan-akan singgasana ini singgasanaku,” dia tidak menampik dan tidak menetapkan. 


Hal ini menunjukkan begitu tawadhu’nya  Ratu Balqis menanggapi pertanyaan Nabi Sulaiman.jawaban ini dinilai oleh banyak ulama disamping menunjukkan ketelitiannya juga kekuatan mentalnya karena menjawab dengan tepat pada situasi seperti dialami itu.

 

Al-Baqa’i memahami penggalan ayat ini sebagai ucapan Nabi Sulaiman. 


Menurutnya, seakan-akan setalah jawaban sang Ratu yang tidak memberi kepastian itu, Nabi Sulaiman mengingat nikmat Allah swt yang selama ini telah dinikmatinya, lalu beliau berkata : “Dia memiliki pengetahuan tentang singgsananya walau masih dibarengi dengan keraguan.


 Ini menunjukkan bahwa sang Ratu berpotensi untuk memperoleh hidayah ataau tulis al Biqa’i seakan-akan Nabi Sulaiman berkata : “Dia tidak mengetahui secara pasti singgasananya 


padahal setiap ia duduk diatasnya, sedang kami (yakni Nabi Sulaiman) telah dianugerahi pengetahuan oleh Allah Swt sebelum kedatangannya yaitu 


bahwa ia akan bingung memberi jawabanatau yakni Nabi Sulaiman bersama leluhurnya telah diberi ilmu sebelum kelahiran sang Ratu.


Ibn Asyur mengemukakan banyak kemungkinan menyangkut pemilik upacan yang direkam penggalan ayat diatas. Disamping Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis, juga boleh ucapan sementara orang yang hadir menyaksikan peristiwa diatas. 


Boleh jadi mereka itu bisikkan atau ucapakan dalam bahasa ibrani kepada rekan-rekan mereka yang ada disekitar tempat kejadian.


 Itu mereka ucapkan dengan bangga bahwa dikalangan meraka aada tokoh-tokoh yang berpengetahuan yang tidak terdapat dikalangan dikerajaan Saba’. 


Seakan-akan merak berkata: “kita tidak melupakan dengan menyaksikan kemegahan dan keangkuhan Ratu ini kita tidak meupakan bahwa kemampuan kitalah lebih baik dari mereka”. 


Sedengkan yang mereka maksud dengan pengetahuan, pengetahuan tentang hikmah yang diajarkan oleh Allah Swt kepada Nabi Sulaiman serta tokoh-tokoh kerajaan 


Nabi Sulaiman yang juga memiliki cabang-cabang ilmu pengetahuan yang serupa dengan apa yang dimliki oleh kerjaan Negeri Saba’, karena kerajaan Negeri Saba’ juga telah membangun satu peradaban yang tinggi.


Setelah Ratu Balqis berada di kerjaan Nabi Sulaiman sang Ratu berdiri dalam keadaaan terpana dihadapan keajaiban-keajaiban yang tidak mampu dibuat manusia, dan menunjukkan adanya kekuatan yang ditunjukkan kepada Sulaiman yang lebih besar daripada kekuatan manusia . 


Maka, ia pun kembali kepada Allah dan bermunajat kepada Nya dengan mengakui kezalimannya terhadap diri sendiri dimasa lalu karena telah menyembha selain Nya, serta menyatakan penyerahan dirinya bersama Sulamian bukan kepada Sulaiman tetapi kepada Allha swt, Tuhan semesta alam. 


Hatinya telah memperoleh petunjuk dan cahaya, sehingga ia mengetahui bahwa berserah diri kepada Allah itu bukan menyerah kepada seorang Makhluk Nya, meskipun kepada Sulaiman, seorang Raja sekaligus Nabi yang memiliki mukjizat-mukjizat ini. 


Berserah diri hanya kepada Allah swt, Tuhan semesta alam, disertai persahabatn dengan orang-orang yang beriman kepada Nya dan menyerukan jalan Nya sesuai hukum persamaan. “Dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah Swt, Tuhan semesta alam.”


Ratu Balqis ialah pemimpin yang lebih mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan rakyat. Ratu yang menyukai perdamaian karena iamengetahui dampak peperangan yang akan menhancurkan rakyatnya, maka ia memilih untuk megadakan kunjungan sebagai tanda tunduk kepada Nabi Sulaiman. 


Kebijakan ini, selain mengacu pada strategi politik yang anggun, juga mencerminkan kepribadian perempuan yang tidak menyukai peperangan, anarkisme, dan lebih memilih menggunakan tipu daya dan cara-cara halus sebelum menggelar kekuatan senjata. 


Beberapa orang menafsirkan keputusan Ratu Balqis yang cenderung memilih untuk mengirimkan hadiah dari pada memperlihatkan kekuatan yang kasar, sebagai politik feminis. 


Nur Jannah Ismail memandang Ratu Balqis memiliki pengetahuan politik damai sekaligus pengetahuan spiritual mengenai pesan unik 


nabi Sulaiman, hal itu menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan independen untuk memerintah secara bijaksana.


Kisah ini menggambarkan tentang perempuan yang mempunyai kecemerlangan pemikiran, ketajaman pandangan, kebijaksanaan dalam mengambil suatu keputusan, dan seorang politikus ulung. 


Ketika ia menerima surat dari nabi Sulaiman, ia musyawarahkan dengan parapembesar kerajaannya. 


Walaupun merasa kuat dan siap untuk berperang dengan Sulaiman, namun ia mempuyai sebuah pandangan yang jauh ke depan. Ia tak ingin kerajaannnya hancur dan rakyatnya menderita akibat peperangan. Karena ia punya intuisi kalau Sulaiaman adalah nabi. Melawanseorang nabi, adalah perbuatan yang sia-sia.


 Seorang nabi adalah utusan Allah yang tak mungkin dapat dikalahkan karena ia dapat pertolongan dari- Nya. 


Dan tidaklah bijaksana menghalangi rakyatnya untuk menikmati kebenaran dengan berperang melawannya untuk mempertahankan kebatilan.


Karakter kepemimpinan Balqis tersebut didukung dengan fakta sejarah bahwa negeri Saba’ adalah negeri yang makmur, tanahnya subur dengan hasil pertanian melimpah, memiliki kekuatan militer yang tangguh dan letaknya yang strategis menjadikan Saba’ menjadi tempat perdagangan internasional. Suatu keunggulan yang dimiliki sebuah negeri yang dipimpin oleh perempuan. Ratu Balqis mewarisi kepemimpinan dari ayahnya Syarahil bin Dzil Jadn, ia adalah seorang raja agung.


 Kepemimpin berasal dari warisan ini disebut dengan teori kepemimpinan genetis yang menyatakan bahwa pemimpin itu tidak di buat, akan tetapi lahir melalui bakat-bakat alami sejak lahir. 


Konteks surat merekam isyarat ini dan menonjolkannya untuk mengungkapkan watak iman kepada Allah dan berserah diri kepada Nya, karena wataknya adalah *izzah* (kehormatan diri) yang mengangkat orang-orang yang kalah ke barisan orang-orang yang menang.


Bahkan, oarang menang dan orang yang kalah itu menjadi bersaudara di jalan Allah swt. Tidak ada yang kalah, dan tidak ada yang menang, karena keduanya bersaudara di jalan Allah swt, Tuhan semesta alam, mengikuti hukum persamaan.


 Lalu Sulaiman duduk diruangan istananya yang besar itu, dan didalam ruangan itu terdapat kolom yang besar, dihiasi oleh ikan-ikan, dan airnya pun beriak-beriak gelombang. Sedangkan diatasnya dilapisi kaca. Sementara Sulaiman dikelilingi oleh tenteranya dari golongan manusia dan jin. 


Mereka berada di segala sisi kolam. Kemudia sang Ratu diminta untuk masuk istana karena Sulaiman, sang Raja memanggilnya.


 Maka tatkala sang Ratu menginjakkan kakinya di istana itu, lalu dia mengangkat pakaiannya sehingga terlihatlah kedua betisnya.


 Berkata Sulaiman, “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca. 


“ dari sini sang Ratu menyadari akan kekhilafannya bahwa dia selama ini dalam kesesatan dan kezaliman dan lalu berkata “Ya Tuhanku, sesungghunya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kpada Allah, Tuhan semesta alam.” Dan dia pun menjadi seorang muslimah yang baik.


Kisah merupakan sarana yang efisien yang dimanfaatkan oleh al- Qur’an untuk mewujudkan orientasi dan tujuan-tujuannya secara keseluruhan. Karenanya kita dapati al-Qur’an memanfaatkan kisah untuk menegaskan wahyu dan risalah, ke Esaan Allah, menyatukan agama-agama dalam pilar Tauhid, pemberi kabar gembira dan ancaman, fenomena-fenomena kuasa illahi, akibat dari kebaikan, keburukan, sabar, takut, syukur dan lainnya.


Sampai saat ini, gagasan untuk menciptakan kesataraan gender tampaknya masih menjadi perdebatan.


 Peran perempuan pada banyak tempat, termasuk posisi kepemimpinan dan manajerial diyakini masih kurang signifikan. 


Hingga memasuki milenium ketiga, masih terdapat sebagian ulama dan cendekiawan yang memandang negatif peran dan kontribusi positif kaum perempuan di ranah politik. 


Banyak dalih yang dikemukakan oleh para penentang hak perempuan, baik dengan penafsiran ayat al-Qur’an dan hadis Nabi saw. 


maupun dengan menunjuk beberapa hal yang berkaitan dengan perempuan yang mereka nilai sebagai kelemahan yang menghalangi mereka menyandang hak tersebut.


 Ada juga yang menunjuk beberapa kondisi atau sifat perempuan yang mereka nilai sebagai kelemahan, misalnya bahwa perempuan mengalami menstruasi, nifas, mengandung, melahirkan, dan menyusukan sehingga dianggap sebagai kendala dalam melakukan aktivitas, apalagi yang berkaitan dengan masyarakat dan negara.


Pandangan yang mendeskriditkan perempuan tersebut melahirkan munculnya feminisme di Barat, feminisme ini memberikan inspirasi yang sangat berharga kepada sebagian kecil umat Islam (para penafsir) akan pentingnya melakukan reinterpretasi dan reformulasi fikih (pemahaman hukum) perempuan. Dengan mendasarkan kepada ayat-ayat al-Qur’an yang membawa misi keadilan, persamaan, dan kesetaraan, mereka berusaha mencari akar masalah mengapa muncul penafsiran yang tidak adil dalam memberikan status terhadap laki-laki dan perempuan (gender). Peran penafsiran dirasa sangat segnifikan dalam memberi pemahaman mengenai pesan-pesan yang terkandung dalam ayat al-Qur’an, dalam hal ini penulis mendapatkan pemahaman mengenai kepemimpinan perempuan melalui ibrah kisah ratu Balqis dalam al-Qur’an. 


Sebelumnya tak dapat dipungkiri bahwa Nabi saw sendiri telah mengakui dan sangat menghargai kepemimpinan perempuan. Beliau bahkan pernah bergabung dalam sebuah managemen perusahaan di bawah pimpinan Khadijah ra, perempuan konglomerat termasyhur di jazirah Arab ketika itu.

Wallahu a'laam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar